Tata Cara Shalat Gerhana

0
90
cara shalat gerhana

Tata Cara Shalat Gerhana – Bagi yang Menyaksikan Gerhana Hendaklah Melaksanakan Shalat Gerhana. Jika seseorang menonton gerhana, hendaklah ia mengemban shalat gerhana sebagaimana tata cara yang nanti bakal kami utarakan, Insyaa Allah.

tata cara shalat gerhana

Lalu apa hukum shalat gerhana?

Pendapat yang terkuat, untuk siapa saja yang menyaksikan gerhana dengan mata telanjang, maka ia wajib mengemban shalat gerhana.
Dalilnya ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ
”Jika kalian menyaksikan gerhana itu (matahari atau bulan) , maka bersegeralah untuk mengemban shalat.” HR. Bukhari no. 1047

Karena dari hadits-hadits yang mengisahkan mengenai shalat gerhana berisi kata perintah (jika kalian menyaksikan gerhana tersebut, shalatlah: kalimat ini berisi perintah). Padahal menurut keterangan dari kaedah ushul fiqih, hukum asal perintah ialah wajib. Pendapat yang mengaku wajib berikut yang dipilih oleh Asy Syaukani, Shidiq Hasan Khoon, dan Syaikh Al Albani rahimahumullah.

Catatan: Jika di suatu wilayah tidak nampak gerhana, maka tidak ada kewajiban melaksanakan shalat gerhana. Karena shalat gerhana ini diharuskan untuk siapa saja yang melihatnya sebagaimana dilafalkan dalam hadits di atas.

Waktu Pelaksanaan Shalat Gerhana

Waktu pengamalan shalat gerhana ialah mulai saat gerhana hadir sampai gerhana itu hilang.
Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِىَ
”Matahari dan bulan ialah dua tanda salah satu tanda-tanda dominasi Allah. Kedua gerhana itu tidak terjadi sebab kematian atau lahirnya seseorang. Jika kalian menyaksikan keduanya, berdo’alah pada Allah, kemudian shalatlah sampai gerhana itu hilang (berakhir).”HR. Bukhari no. 1060 dan Muslim no. 904

Shalat gerhana pun boleh dilaksanakan pada masa-masa terlarang guna shalat. Jadi, andai gerhana hadir setelah Ashar, sebenarnya waktu tersebut ialah waktu terlarang guna shalat, maka shalat gerhana tetap boleh dilaksanakan. Dalilnya merupakan:

فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلاَةِ
”Jika kalian menyaksikan kedua gerhana matahari dan bulan, bersegeralah membayar shalat.” HR. Bukhari no. 1047.

Dalam hadits ini tidak diberi batas waktunya. Kapan saja menyaksikan gerhana tergolong waktu terlarang guna shalat, maka shalat gerhana itu tetap dilaksanakan.

Hal-hal yang Dianjurkan Ketika Terjadi Gerhana

1. Perbanyaklah dzikir, istighfar, takbir, sedekah dan format ketaatan lainnya.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
”Sesungguhnya matahari dan bulan ialah dua tanda salah satu tanda-tanda dominasi Allah. Gerhana ini tidak terjadi sebab kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat urusan itu maka berdo’alah untuk Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” HR. Bukhari no. 1044

2. Terbit mengerjakan shalat gerhana secara berjama’ah di masjid.

Salah satu alasan yang mengindikasikan hal ini sebagaimana dalam hadits dari ’Aisyah sesungguhnya Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengendari kendaraan di pagi hari kemudian terjadilah gerhana. Lalu Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melalui kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), kemudian beliau berdiri dan membayar shalat. (HR. Bukhari no. 1050)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam mengunjungi tempat shalatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia shalat di situ. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/343)

Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang cocok dengan doktrin Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ialah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, pasti shalat itu lebih tepat dilakukan di tanah lapang supaya nanti lebih mudah menyaksikan berakhirnya gerhana.” Fathul Bari, 4/10

Lalu apakah menggarap dengan jama’ah adalah syarat shalat gerhana?

Perhatikan penjelasan unik berikut.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin mengatakan, ”Shalat gerhana secara jama’ah bukanlah kriteria. Jika seseorang sedang di rumah, dia pun boleh mengemban shalat gerhana di rumah. Dalil dari urusan ini ialah sabda Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,

فَإِذَا رَأَيْتُمْ فَصَلُّوا
”Jika kalian menyaksikan gerhana tersebut, maka shalatlah”.HR. Bukhari no. 1043

Dalam hadits ini, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam tidak mengatakan, ”(Jika kalian melihatnya), shalatlah kalian di masjid.” Oleh sebab itu, urusan ini mengindikasikan bahwa shalat gerhana diperintahkan untuk digarap walaupun seseorang mengerjakan shalat itu sendirian. Namun, tidak diragukan lagi bahwa membayar shalat itu secara berjama’ah pasti saja lebih utama (afdhol). Bahkan lebih utama andai shalat tersebut dilakukan di masjid sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menggarap shalat itu di masjid dan menyuruh para kawan untuk melaksanakannya di masjid. Ingatlah, dengan banyaknya jama’ah bakal lebih meningkatkan kekhusu’an. Dan banyaknya jama’ah juga ialah sebab terijabahnya (terkabulnya) do’a.” Syarhul Mumthi’, 2/430

3. Wanita pun boleh shalat gerhana bareng kaum pria

Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata,

أَتَيْتُ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ ، وَإِذَا هِىَ قَائِمَةٌ تُصَلِّى فَقُلْتُ مَا لِلنَّاسِ فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَتْ سُبْحَانَ اللَّهِ . فَقُلْتُ آيَةٌ فَأَشَارَتْ أَىْ نَعَمْ
“Saya mengunjungi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- saat terjadi gerhana matahari. Saat tersebut manusia tengah mendirikan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk mengerjakan sholat, saya bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit sambil berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu menyerahkan isyarat untuk menuliskan iya.” HR. Bukhari no. 1053

Bukhari membawakan hadits ini pada bab:

صَلاَةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ فِى الْكُسُوفِ
”Shalat wanita bareng kaum pria saat terjadi gerhana matahari.”
Ibnu Hajar mengatakan,

أَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَة إِلَى رَدّ قَوْل مَنْ مَنَعَ ذَلِكَ وَقَالَ : يُصَلِّينَ فُرَادَى
”Judul bab ini ialah sebagai sanggahan guna orang-orang yang tidak mengizinkan wanita jangan shalat gerhana bareng kaum pria, mereka hanya diizinkan shalat sendiri.” Fathul Bari, 4/6

Kesimpulannya, perempuan boleh ikut serta mengerjakan shalat gerhana bareng kaum lelaki di masjid. Namun, andai ditakutkan keluarnya wanita itu akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka usahakan mereka shalat sendiri di rumah. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/345)

4. Menyeru jama’ah dengan panggilan ’ash sholatu jaami’ah’ dan tidak terdapat adzan maupun iqomah.

Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan,

أنَّ الشَّمس خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَبَعَثَ مُنَادياً يُنَادِي: الصلاَةَ جَامِعَة، فَاجتَمَعُوا. وَتَقَدَّمَ فَكَبرَّ وَصلَّى أربَعَ رَكَعَاتٍ في ركعَتَين وَأربعَ سَجَدَاتٍ.
“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau kemudian mengutus seseorang guna memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari saya dan anda lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang kemudian berkumpul. Nabi kemudian maju dan bertakbir. Beliau mengerjakan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” HR. Muslim no. 901. Dalam hadits ini tidak diperintahkan guna mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi, adzan dan iqomah tidak terdapat dalam shalat gerhana.

5. Berkhutbah sesudah shalat gerhana

Disunnahkah sesudah shalat gerhana guna berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan tidak sedikit sahabat. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435). Hal ini menurut hadits:

عَنْ عَائِشةَ رَضي الله عَنْهَا قَالَتْ: خَسَفَتِ الشمسُ عَلَى عَهدِ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم. فَقَامَ فَصَلَّى رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم بالنَّاس فَأطَالَ القِيَام، ثُمَّ رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكُوعَ، ثُمَّ قَامَ فَأطَالَ القيَامَ وَهو دُونَ القِيَام الأوَّلِ، ثم رَكَعَ فَأطَالَ الرُّكوعَ وهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأوَّلِ، ثُم سَجَدَ فَأطَالَ السُّجُودَ، ثم فَعَلَ في الركعَةِ الأخْرَى مِثْل مَا فَعَل في الركْعَةِ الأولى، ثُمَّ انصرَفَ وَقَدْ انجَلتِ الشَّمْسُ، فَخَطبَ الناسَ فَحَمِدَ الله وأثنَى عَليهِ ثم قالَ:

” إن الشَّمس و القَمَر آيتانِ مِنْ آيَاتِ الله لاَ تنْخَسِفَانِ لِمَوتِ أحد. وَلاَ لِحَيَاتِهِ. فَإذَا رَأيتمْ ذلك فَادعُوا الله وَكبروا وَصَلُّوا وَتَصَدَّ قوا”.

ثم قال: ” يَا أمةَ مُحمَّد ” : والله مَا مِنْ أحَد أغَْيَرُ مِنَ الله سُبْحَانَهُ من أن يَزْنَي عَبْدُهُ أوْ تَزني أمَتُهُ. يَا أمةَ مُحَمد، وَالله لو تَعْلمُونَ مَا أعلم لضَحكْتُمْ قَليلاً وَلَبَكَيتم كثِيراً “.
Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami insan dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut tetapi lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ pulang dan memperpanjang ruku’ tersebut tetapi lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya, beliau mengerjakannya laksana raka’at kesatu. Lantas beliau beranjak (usai menggarap shalat tadi), sementara matahari sudah nampak.
Setelah tersebut beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan meninggikan Allah, lantas bersabda,
”Sesungguhnya matahari dan bulan ialah dua tanda salah satu tanda-tanda dominasi Allah. Gerhana ini tidak terjadi sebab kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat urusan itu maka berdo’alah untuk Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”
Nabi selanjutnya bersabda,
”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak terdapat seorang juga yang lebih cemburu daripada Allah sebab ada seorang hamba baik laki-laki maupun wanita yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, andai kalian memahami yang aku ketahui, niscaya kalian akan tidak banyak tertawa dan tidak sedikit menangis.” HR. Bukhari, no. 1044

Khutbah yang dilakukan ialah sekali sebagaimana shalat ’ied, bukan dua kali khutbah. Inilah pendapat yang benar sebagaimana dipilih oleh Imam Asy Syafi’i. (Lihat Syarhul Mumthi’, 2/433)

Tata Cara Shalat Gerhana

Shalat gerhana dilaksanakan sebanyak dua raka’at dan ini menurut kesepakatan semua ulama. Namun, semua ulama berselisih tentang tata caranya.

Ada yang menuliskan bahwa shalat gerhana dilaksanakan sebagaimana shalat sunnah biasa, dengan dua raka’at dan masing-masing raka’at terdapat sekali ruku’, dua kali sujud. Ada pun yang berasumsi bahwa shalat gerhana dilaksanakan dengan dua raka’at dan masing-masing raka’at terdapat dua kali ruku’, dua kali sujud. Pendapat yang terakhir berikut yang lebih powerful sebagaimana yang dipilih oleh beberapa besar ulama. (Lihat Shohih Fiqh Sunnah, 1/435-437)

Hal ini menurut hadits-hadits tegas yang sudah kami sebutkan:

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau kemudian mengutus seseorang guna menyeru ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari saya dan anda lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang kemudian berkumpul. Nabi kemudian maju dan bertakbir. Beliau mengerjakan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” HR. Muslim no. 901

“Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami insan dan beliau memanjangkan berdiri. Kemuadian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut tetapi lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ pulang dan memperpanjang ruku’ tersebut tetapi lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya laksana raka’at kesatu. Lantas beliau beranjak (usai menggarap shalat tadi), sementara matahari sudah nampak.” HR. Bukhari, no. 1044

Ringkasnya, tata cara shalat gerhana (sama laksana shalat biasa dan bacaannya juga sama), urutannya sebagai berikut.

[1] Berniat di dalam hati dan tidak dilafadzkan sebab melafadzkan niat tergolong perkara yang tidak terdapat tuntunannya dari Nabi anda shallallahu ’alaihi wa sallam dan beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun tidak pernah mengajarkannya lafadz niat pada shalat tertentu untuk para sahabatnya.

[2] Takbiratul ihram yakni bertakbir sebagaimana shalat biasa.

[3] Membaca do’a istiftah dan berta’awudz, lantas membaca surat Al Fatihah dan menyimak surat yang panjang (seperti surat Al Baqarah) seraya dijaherkan (dikeraskan suaranya, bukan lirih) sebagaimana ada dalam hadits Aisyah:

جَهَرَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ
”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menjaherkan bacaannya saat shalat gerhana.” (HR. Bukhari no. 1065 dan Muslim no. 901)

[4] Kemudian ruku’ seraya memanjangkannya.

[5] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil menyampaikan ’SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH, RABBANA WA LAKAL HAMD’

[6] Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, tetapi dilanjutkan dengan menyimak surat Al Fatihah dan surat yang panjang. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang kesatu.

[7] Kemudian ruku’ pulang (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ sebelumnya.

[8] Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal).

[9] Kemudian sujud yang panjangnya sebagaimana ruku’, kemudian duduk salah satu dua sujud lantas sujud kembali.

[10] Kemudian bangkit dari sujud lalu menggarap raka’at kedua sebagaimana raka’at kesatu melulu saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

[11] Tasyahud.

[12] Salam.

[13] Setelah tersebut imam mengucapkan khutbah untuk para jama’ah yang mengandung anjuran guna berdzikir, berdo’a, beristighfar, sedekah, dan melepaskan budak. (Lihat Zaadul Ma’ad, Ibnul Qayyim, 349-356, Darul Fikr dan Shohih Fiqih Sunnah, 1/438)

Nasehat Terakhir

Saudaraku, takutlah dengan gejala alami ini. Sikap yang tepat ketika gejala gerhana ini ialah takut, cemas akan terjadi hari kiamat. Bukan kelaziman orang seperti kelaziman orang kini ini yang melulu ingin menonton peristiwa gerhana dengan menciptakan album kenangan gejala tersebut, tanpa inginkan mengindahkan bimbingan dan anjuran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saat itu. Siapa tahu peristiwa ini ialah tanda datangnya bencana atau adzab, atau tanda semakin dekatnya hari kiamat. Lihatlah yang dilaksanakan oleh Nabi anda shallallahu ’alaihi wa sallam:

عَنْ أَبِى مُوسَى قَالَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى زَمَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَامَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ حَتَّى أَتَى الْمَسْجِدَ فَقَامَ يُصَلِّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ مَا رَأَيْتُهُ يَفْعَلُهُ فِى صَلاَةٍ قَطُّ ثُمَّ قَالَ « إِنَّ هَذِهِ الآيَاتِ الَّتِى يُرْسِلُ اللَّهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُرْسِلُهَا يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ
Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu menuturkan, ”Pernah terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi kemudian berdiri takut sebab khawatir bakal terjadi hari kiamat, sampai-sampai beliau pun mengunjungi masjid lantas beliau menggarap shalat dengan berdiri, ruku’ dan sujud yang lama. Aku belum pernah menyaksikan beliau mengerjakan shalat sedemikian rupa.”
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam kemudian bersabda,”Sesungguhnya ini ialah tanda-tanda dominasi Allah yang ditunjukkan-Nya. Gerhana itu tidaklah terjadi sebab kematian atau hidupnya seseorang. Akan namun Allah menjadikan demikian guna menakuti hamba-hamba-Nya. Jika kalian menyaksikan sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah guna berdzikir, berdo’a dan memohon ampun untuk Allah.” HR. Muslim no. 912

An Nawawi rahimahullah menjelaskan tentang maksud mengapa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam takut, cemas terjadi hari kiamat. Beliau rahimahullah menyatakan dengan sejumlah alasan, di antaranya:
Gerhana itu adalahtanda yang hadir sebelum firasat kiamat laksana terbitnya matahari dari barat atau keluarnya Dajjal. Atau barangkali gerhana itu adalahsebagian tanda kiamat. Syarh Muslim, 3/322

Hendaknya seorang mukmin merasa takut untuk Allah, cemas akan tertimpa adzab-Nya. Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam saja paling takut saat itu, sebenarnya kita seluruh tahu bareng bahwa beliau shallallahu ’alaihi wa sallam ialah hamba yang paling disukai Allah. Lalu kenapa kita melulu melewati gejala semacam ini dengan perasaan biasa saja, barangkali hanya dipenuhi dengan perkara yang tidak berfungsi dan sia-sia, bahkan mungkin dipenuhi dengan melakukan maksiat. Na’udzu billahi min dzalik.

Demikian keterangan ringkas kami tentang tata cara shalat gerhana . Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here