Bagaimana Sejarah Konsep Civil Society atau Masyarakat Madani?

0
237
Sejarah Konsep Civil Society atau Masyarakat Madani

Bagaimana Sejarah Konsep Civil Society atau Masyarakat Madani? – Seperti yang sudah ditulis sebelumnya pada definisi civil society atau masyarakat madani, bahwa wacana Civil Society atau Masyarakat Madani adalah konsep yang berasal dari pergolakan politik dan sejarah masyarakat Eropa Barat yang merasakan proses transformasi dari pola kehidupan feodal mengarah ke kehidupan masyarakat industri kapitalis. Konsep ini kesatu kali lahir semenjak zaman Yunani kuno. Jika ditelusuri akar sejarahnya dari awal, maka pertumbuhan wacana Civil Society atau Masyarakat Madani bisa di runtut dari masa Aristoteles. Pada masa ini (Aristoteles, 384-322 SM) Civil Society dicerna sebagai sistem kenegaraan dengan memakai istilah koinoniah politike, yakni suatu komunitas politik lokasi warga dapat tercebur langsung dalam sekian banyak percaturan ekonom-politik dan pengambian keputusan. Istilah ini pun dipergunakan untuk mencerminkan suatu masyarakat politik dan etis dimana penduduk negara di dalamnya berkedudukan sama di depan hukum.

Sejarah Konsep Civil Society atau Masyarakat Madani

Sejarah Konsep Civil Society atau Masyarakat Madani

Konsepsi Aristoteles ini dibuntuti oleh Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) dengan istilah Societies Civilies, yaitu suatu komunitas yang mendominasi komunitas yang lain. Terma yang dikedepankan oleh Cicero ini lebih menekankan konsep negara kota (City State), yakni untuk mencerminkan kerajaan, kota, dan format korporasi lainnya, sebagai kesatuan yang terorganisasi. Konsep ini dikembangkan pula oleh Thomas Hobbes (1588-1679 M) dan Jhone Locke (1632-1704 M). Selanjutnya di Prancis hadir John Jack Rousseau, yang tekenal dengan bukunya The Social Contract (1762). Dalam kitab tersebut J.J. Rousseau berkata tentang pemikiran otoritas rakyat, dan perjanjian politik yang mesti dilakukan antara insan dan kekuasaan.

Pada tahun 1767, wacana Civil Society atau Masyarakat Madani ini di kembangkan oleh Adam Ferguson dengan memungut konteks sosio-kultural dan politik Scotlandia. Ferguson menekankan Civil Society atau Masyarakat Madani pada suatu visi etis dalam kehidupan bermasyarakat. Pemahaman ini dipakai untuk mengantisipasi peruahan sosial yang disebabkan oleh revolusi industri dan timbulnya kapitlisme serta mencoloknya perbedaan antar publik dan individu. Karena dengan konsep ini sikap solidaritas, saling menyayangi serta sikap saling mepercayai akan hadir antar penduduk negara secara alamiah.

Kemudian pada tahun 1792, hadir wacana Civil Society atau Masyarakat Madani yang mempunyai aksentuasi yang bertolak belakang dengan sebelunya. Konsep ini ditimbulkan oleh Thomas Paine yang memakai istilah Civil Society atau Masyarakat Madani sebagai kumpulan masyarakat yang memilikiposisi secara diametral dengan negara, bahkan dianggapnya sebagai antitesis dari negara. Dengan demikian, maka Civil Society atau Masyarakat Madani menurut keterangan dari Paine ini ialah ruang dimana penduduk dapat mengembangkan jati diri dan memberi peluang untuk pemuasan kepentingannya secara bebas dan tanpa paksaan.

Perkembangan Civil Society atau Masyarakat Madani

Perkembangan Civil Society atau Masyarakat Madani selanjutnya dikembangkan oleh G.W.F Hegel (1770-1831 M), Karl Mark (1818-1883 M) dan Antonio Gramsci (1891-1837 M). Wacana Civil Society atau Masyarakat Madani yang dikembangkan oleh ketiga figur ini menekankan pada civil society sebagai unsur idologi ruang belajar dominan. Pemahaman ini lebih adalah sebuah reaksi dari model pemahaman yang dilaksanakan oleh paine (yang memandang Civil Society atau Masyarakat Madani sebagai unsur terpisah dari negara).

Periode berikutnya, wacana Civil Society atau Masyarakat Madani dikembangkan oleh Alexis de ‘Tocqueville (1805-1859 M) yang menurut empiris demokrasi Amerika, dengan mengembangkan teori civil society sebagai intitas penyembangan kekuatan. Untuk de ‘Tocqueville, kekuatan politik dan civil society lah yang menjadikan demokrasi di Amerika memiliki daya tahan. Dengan terwujudnya pluralitas, kemandirian dan kapasitas politik di dalam civil society, maka penduduk negara akan dapat mengimbangi dan mengontrol kekuatan negara.

Sebutan Civil Society di Indonesia

Di Indonesia, masyarakat madani sebagai terjemahan dari civil society diperkenalkan kesatu kali oleh Anwar Ibrahim (ketika tersebut Menteri Keuangan dan Timbalan Perdana Menteri Malaysia) dalam ceramah Simposium Nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada Festival Istiqlal, 26 September 1995 Jakarta. Istilah tersebut diterjemahkan dari bahasa Arab mujtama’ madani, yang diperkenalkan oleh Prof. Naquib Attas, seorang berpengalaman sejarah dan kemajuan Islam dari Malaysia, pendiri ISTAC. Kata “madani” berarti civil atau civilized (beradab). Madani berarti pun peradaban, sebagaimana kata Arab lainnya laksana hadlari, tsaqafi atau tamaddun. Konsep madani untuk orang Arab memang mengacu pada hal-hal yang ideal dalam kehidupan.Konsep masyarakat madani mempunyai sifat universal dan membutuhkan adaptasi guna diwujudkan di Negara Indonesia menilik dasar konsep masyarakatmadani yang tidak mempunyai latar belakang yang sama dengan suasana sosial-budaya masyarakat Indonesia.

Konsep Masyarakat Madani di Indonesia

Konsep Masyarakat Madani paling baru dikalangan masyarakat Indonesia sehingga membutuhkan proses dalam pengembangannya. Hal ini bukan adalahhal yang mudah, oleh sebab itu dibutuhkan langkah-langkah yang efektif, sistematis, serta kontinyu sampai-sampai dapat merubah paradigma dan pemikiran masyarakat Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here