Korupsi Dalam Pandangan Islam

0
342
Korupsi Dalam Pandangan Islam

Korupsi Dalam Pandangan Islam – Di antara praktik haram dalam muamalah yang menzalimi banyak orang adalah korupsi. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) disebutkan bahwa korupsi adalah penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan) untuk kepentingan pribadi atau orang lain.

Pengertian Korupsi Secara Umum

Korupsi adalah tindakan pengkhianatan terhadap amanah yang dipercayakan kepada seorang pegawai. Perbuatan ini jelas merugikan dan menzalimi khalayak ramai.

Korupsi Dalam Pandangan Islam

Dalam syariat Islam, pengkhianatan terhadap harta negara dikenal dengan ghulul. Dalam buku Raudhatun Na’im disebutkan bahwa di antara hal yang termasuk ghulul adalah menggelapkan harta rakyat (harta negara), berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari al-Mustaurid bin Musaddad, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa (Pegawai) yang mengambil harta negara selain untuk hal yang telah disepakati bersama, sungguh ia telah berbuat ghulul atau dia telah mencuri” (HR. Daud)

Ibnu Hajar al-Haitsami berkata, “Sebagian ulama berpendapat bahwa menggelapkan (mengkhianati) harta milik umat yang berasal dari kas negara termasuk ghulul. Istilah ghulul untuk korupso harta negara juga disetujui oleh komite fatwa kerajaan Arab Saudi, dalam fatwa no. 9450.

Beberapa Larangan Melakukan Korusi Dalam Islam

Sesungguhnya Allah telah melarang orang beriman berkhianat terhadap amanah yang dipikulkan dan menyamakan antara khianat terhadap amanah dengan khianat terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Orang tersebut mendapat ancaman di akhirat yaitu memikul apa saja yang dikorupsinya. Begitu besarnya azab yang diterima oleh orang yang menggelapkan harta umat, maka Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan sahabatnya bahwa beliau tidak akan memberi syafa’at kepada pelakunya.

Abu Hurairah menceritakan, “Suatu hari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan kami akan bahaya ghulul, beliau bersabda, “….Jangan sampai nanti di akhirat aku menemukan salah seorang di antara kalian memikul emas dan perak, lalu orang itu datang kepadaku seraya berkata, “Wahai Rasulullah, tolonglah aku! Aku berkata, “Aku tidak dapat menolongmu, bukanlah aku telah memperingatkan kamu.” HR. Bukhari.

Baca Juga : Jual Beli Yang Dilarang Dalam Islam

Beberapa Bentuk Korupsi Dalam Islam

Termasuk beberapa bentuk korupsi adalah seorang pegawai yang diamanahi untuk menarik uang untuk dimasukkan ke dalam kas negara, namun diselewengkan untuk kepentingan pribadi.

Begitu juga seorang pegawai digaji oleh negara berdasarkan jam kerja penuh. Jika dia bekerja tidak sesuai dengan jam kerjanya yang telah ditentukan berarti gaji untuk jam kerja yang tidak dipenuhi termasuk mengambil uang negara tanpa imbalah kerja.

Tim fatwa www.islamweb.net pernah ditanya tentang hal ini dan memberikan jawaban sebagai berikut, ” Seorang pegawai yang telah membuat kontrak kerja dengan suatu pihak maka hendaklah ia bekerja pada waktu yang telah ditentukan. Karena Allah telah mewajibkan orang beriman untuk memenuhi kontrak kerja dan Nabi bersabda, ” Orang-orang Islam itu memenuhi perjanjian yang telah mereka buat.” (HR. Tirmidzi)

Pencegahan Korupsi Dalam Pandangan Islam

Islam mensyaratkan hal-hal yang harus dimiliki oleh seorang calon pegawai, agar dapat mengemban tugas sebagaimana mestinya. Hal-hal tersebut yaitu:

  • Jujur
  • Dapat Dipercaya
  • Cakap Bekerja

Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab shahihnya, bahwa Rasulullah bersabda, “Seseorang yang jujur yang dipercayakan untuk mengantarkan sedekah kepada orang yang berhak menerimanya, ia mendapatkan pahala bersedekah juga, jika ia ikhlas melakukannya.”

Selain sifat diatas, hendaknya mengangkat calon pegawai yang zuhud, mencukupi kebutuhan pokok pegawai, mengadakan pengawasan dan memberikan sanksi bagi yang melakukan tindak pengkhianatan.

Hukuman Bagi Yang Melakukan Korupsi

Seorang koruptor tidak disamakan dengan seorang pencuri dalam hukuman yaitu dijatuhkan hukum potong tangan. Diantaranya barang yang dicuri berada dalam (hirz) tempat yang tercaga dari jangkauan orang lain. Seperti brankas atau lemari, sampai seharga seperempat dinar dan beberapa persyaratan lainnya.

Persyaratan ini tidak terpenuhi untuk kasus korupsi. Karena koruptor menggelapkan uang milik negara yang berada dalam genggamannya melalui jabatan yang dipercayakan kepadanya. Dan dia tidak mencuri uang negara dari kantor kas negara. Oleh karena itu, para Ulama tidak pernah menjatuhkan sanksi potong tangan kepada koruptor.

Diantara hikmah kenapa Islam membedakan antara hukuman bagi orang yang mengambil harta orang lain. Dengan cara mencuri dan mengambilnya dengan cara berkhianat adalah bahwa pencuri dapat mengambil harta orang lain yang dijaga dengan perangkat apapun.

Baca Juga : Bolehkah Menjual Mushaf Al-Qur’an?

Maka, tidak ada cara lain untuk menghentikannya dengan menjatuhkan sanksi yang membuat jera. Yaitu memotong tangannya yang merupakan alat utamanya.

Sedangkan orang yang mengkhianati amanah uang atau barang, dapat dihindari dengan tidak menitipkan barang kepadanya. Dan merupakan suatu kecerobohan memberikan kepercayaan kepada orang yang tidak jujur. Ini bukan berarti seorang koruptor terbebas dari hukuman apapun, akan tetapi dia dapat dijatuhi hukuman sebagai berikut:

Mengembalikan Uang Hasil Korupsi

Ia wajib mengembalikan uang negara yang diambilnya, meski telah habis. Maka harganya yang tersisa disita oleh negara dan sisa yang belum dibayar menjadi hutang selamanya.

Hukuman Ta’zir Kepada Pelaku Korupsi

Hukuman ta’zir adalah hukuman kepada pelaku sebuah kejahatan yang tidak ditentukan oleh Allah sanksinya karena tidak terpenuhinya salah satu persyaratan untuk menjatuhkan hukuman hudud. Maka hukumannya berpindah menjadi ta’zir.

Jenis hukuman ta’zir terhadap koruptor diserahkan pihak yang berwenang untuk menentukan hukumannya yang dianggap dapat membuatnya jera. Inilah beberapa ketentuan dan hukum dalam Islam berkenaan tentang korupsi. Semoga Allah menjauhkan para pegawai di negeri ini dari tindak korupsi. Wallahu ‘Alam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here