Hal-Hal Yang Dapat Membatalkan Wudhu

0
212
hal-hal yang dapat membatalkan wudhu

Hal-Hal Yang Dapat Membatalkan Wudhu – Dalam Islam, wudhu adalah salah satu cara menyucikan anggota tubuh dengan air. Seorang muslim diwajibkan bersuci setiap akan melaksanakan shalat. Berwudu bisa pula menggunakan debu yang disebut dengan tayammum.

Berwudhu bisa dilakukan setiap kita melakukan sesuatu. Seperti hendak membaca Al-Qur’an, bepergian, bekerja, bahkan mau tidur. Sebelum tidur, kita dianjurkan untuk berwudhu dahulu agar tidur kita tidak diganggu oleh syaithon. Syaithon bisa masuk dan muncul di mimpi kita. Maka dari itu, kita sebagai Muslim dianjurkan berwudhu dahulu sebelum kita beranjak tidur.

Sebagai umat Islam, kita wajib tau apa saja yang dapat membatalkan wudhu. Kalau kita tidak tau apa saja yang membatalkan wudhu, ketika hendak melakukan ibadah shalat, sebelumnya kita berpikir kalau kita sudah wudhu, padahal wudhu kita sudah batal tanpa kita sadar. Baik langsung saja, berikut hal-hal yang dapat membatalkan wudhu kita.

Baca Juga :

Hal-Hal Yang Dapat Membatalkan Wudhu

Mungkin banyak yang sudah mengetahui apa saja yang dapat membatalkan wudhu kita, akan tetapi ada juga hal yang tanpa kita sadar dapat membatalkan wudhu kita.

Keluarnya Sesuatu Dari Dubur Maupun Qubul

Hal ini lebih merujuk keluarnya kencing, BAB, kentut, mani, madzi dan wadi. Tentu kencing, BAB dan kentut termasuk dalam hadats (besar maupun kecil) disini.

Dalil bahwa kencing dan buang air besar merupakan pembatal wudhu dapat dilihat pada firman Allah Ta’ala,

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

Atau kembali dari tempat buang air (kakus).” Q.S. Al Maidah 6

Para Ulama sepakat kalau kencing dan buang air besar dapat membatalkan wudhu, Lihat Shahih Fiqh Sunnah, Abu Malik Kamal bin As Sayid Salim, 1/127, Al Maktabah At Taufiqiyah.

Dalil kentut dapat membatalkan wudhu dapat dilihat dalam Hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ » . قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Shalat seseorang yang berhadats tidak akan diterima sampai ia berwudhu.” Lalu ada orang dari Hadhromaut mengatakan, “Apa yang dimaksud hadats, wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah pun menjawab,

فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ

Di antaranya adalah kentut tanpa suara atau kentut dengan suara.” HR. Bukhari no. 135. Para ulama pun sepakat bahwa kentut termasuk pembatal wudhu. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/128.

Sedangkan Mani adalah cairan yang keluar dari kemaluan laki-laki, berwarna putih kental, keluar bersamaan dengan rasa syahwat (saat berhubungan suami istri). Mani ini termasuk zat yang suci. Akan tetapi dapat membatalkan wudhu karena keluarnya bersamaan dengan rasa syahwat saat berhubungan suami istri.

Justru jika keluar mani, kita diwajibkan mandi besar. Mani dapat membatalkan wudhu berdasarkan kesepakatan para ulama dan segala sesuatu yang menyebabkan mandi besar. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/128.

Kalau madzi sendiri adalah cairan putih tipis dan lengket, keluar saat sedang bercumbu dengan istri, atau sedang membayangkan jima’, atau keinginan untuk jima’. Madzi sendiri termasuk hadats atau najis.

Madzi bisa membatalkan wudhu berdasarkan hadits tentang cerita ‘Ali bin Abi Tholib. ‘Ali mengatakan,

كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ أَسْتَحْيِى أَنْ أَسْأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- لِمَكَانِ ابْنَتِهِ فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ فَسَأَلَهُ فَقَالَ « يَغْسِلُ ذَكَرَهُ وَيَتَوَضَّأُ ».

“Aku termasuk orang yang sering keluar madzi. Namun aku malu menanyakan hal ini kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallm dikarenakan kedudukan anaknya (Fatimah) di sisiku. Lalu aku pun memerintahkan pada Al Miqdad bin Al Aswad untuk bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau memberikan jawaban pada Al Miqdad, “Cucilah kemaluannya kemudian suruh ia berwudhu”. HR. Bukhari no. 269 dan Muslim no. 303.

Kalau Wadi adalah cairan yang keluar setelah kencing, berwarna putih tebal mirip mani, tetapi kekeruhannya berbeda, cuma tidak berbau dan keluarnya tidak karena syahwat.

Wadi perlakuannya sama dengan madzi.

Ibnu ‘Abbas mengatakan,

الْمَنِىُّ وَالْمَذْىُ وَالْوَدْىُ ، أَمَّا الْمَنِىُّ فَهُوَ الَّذِى مِنْهُ الْغُسْلُ ، وَأَمَّا الْوَدْىُ وَالْمَذْىُ فَقَالَ : اغْسِلْ ذَكَرَكَ أَوْ مَذَاكِيرَكَ وَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ.

“Mengenai mani, madzi dan wadi; adapun mani, maka diharuskan untuk mandi. Sedangkan wadi dan madzi, Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Cucilah kemaluanmu, lantas berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat.” HR. Al Baihaqi no. 771. Syaikh Abu Malik -penulis Shahih Fiqh Sunnah– mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.

Tertidur Lelap (Dalam Keadaan Tidak Sadar)

Tidur dapat membatalkan wudhu jika tidurnya tersebut dalam keadaan yang tidak sadar atau terlelap. Tidur yang seperti inilah yang dapat membatalkan wudhu karena dianggap mazhonnatu lil hadats, yaitu kemungkinan muncul hadats.

Jika tidur hanya karena dalam keadaan kantuk, masih sadar, maksudnya masih merasakan apa-apa, ini tidak termasuk membatalkan wudhu.

Di antara dalil hal ini adalah hadits dari Anas bin Malik,

أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ وَالنَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُنَاجِى رَجُلاً فَلَمْ يَزَلْ يُنَاجِيهِ حَتَّى نَامَ أَصْحَابُهُ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى بِهِمْ.

“Ketika shalat hendak ditegakkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik-bisik dengan seseorang. Beliau terus berbisik-bisik dengannya hingga para sahabat tertidur. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun datang dan shalat bersama mereka.” HR. Muslim no. 376.

Qotadah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Anas berkata,

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنَامُونَ ثُمَّ يُصَلُّونَ وَلاَ يَتَوَضَّئُونَ قَالَ قُلْتُ سَمِعْتَهُ مِنْ أَنَسٍ قَالَ إِى وَاللَّهِ.

Para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ketiduran kemudian mereka pun melakukan shalat, tanpa berwudhu lagi.” Ada yang mengatakan, “Benarkah engkau mendengar hal ini dari Anas?” Qotadah, “Iya betul. Demi Allah.” HR. Muslim no. 376.

Hilangnya Kesadaran Karena Mabuk

Berdasarkan ijma’ (kesepakatan para ulama), hilang kesadaran karena mabuk ini termasuk lebih parah dari tidur lelap. Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 1/133.

Memakan Daging Unta

Dalilnya adalah hadist dari Jabir bin Samuroh,

أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَأَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الْغَنَمِ قَالَ « إِنْ شِئْتَ فَتَوَضَّأْ وَإِنْ شِئْتَ فَلاَ تَوَضَّأْ ». قَالَ أَتَوَضَّأُ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ قَالَ « نَعَمْ فَتَوَضَّأْ مِنْ لُحُومِ الإِبِلِ ».

“Ada seseorang yang bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah aku harus berwudhu setelah memakan  daging kambing?” Beliau bersabda, “Jika engkau mau, berwudhulah. Namun jika enggan, maka tidak apa-apa engkau tidak berwudhu.” Orang tadi bertanya lagi, “ Apakah seseorang harus berwudhu setelah memakan daging unta?” Beliau bersabda, “Iya, engkau harus berwudhu setelah memakan daging unta.” HR. Muslim no. 360.

Menyentuh Wanita Yang Bukan Mahramnya

Maksudnya disini adalah menyentuh wanita bukan mahram antar kulit dengan kulit, baik disengaja maupun tidak disengaja. Berbeda jika menyentuh wanita yang termasuk mahramnya salah satunya istri.

Akan tetapi menyentuh istri dalam artian karena syahwat (yang dapat menimbulkan munculnya air madzi) itu batal.

Demikian pembahasan tentang hal-hal yang dapat membatalkan wudhu, sebagian pendapat tentang pembatal wudhu memang masih di perselisihkan antara para ulama. Tetapi kita mengambil langkah bijak saja, ambil jalan amannya saja. Wallahu’alam Bishowab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here