Hadits Shahih Tentang Panji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam

0
85

Lemahkah hadits-hadits Tentang Panji Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam?

Soal: Benarkah hadits-hadits tentang Ar-Rayah & Al-Liwa’ itu lemah? Benarkah hadits-hadits tentang keduanya merupakan rekaan Hizbut Tahrir? Mohon penjelasan!

Jawab:

Jika ada yang mendakwa bahwa hadits-hadits tentang Ar-Rayah & Al-Liwa’ itu lemah, apalagi kemudian mendakwa bahwa itu merupakan rekaan Hizbut Tahrir, maka dakwaan itu jelas bukan dari orang yang mengerti hadits; jika tidak boleh disebut bodoh tentang ilmu hadits. Mengapa?

hadits shahih panji rasulullah

Pertama: Karena terdapat banyak hadits shahih, atau minimal hasan, yang menyebutkan bahwa Rayah (Panji) Rasul itu berwarna hitam & Liwa’ (Bendera)-nya berwarna putih. Contohnya hadits berikut:

عَنْ ابنِ عَبَّاسِ قَالَ كاَنَتْ رَايَةَ رَسُوْلُ اللَّهِ صل الله عليه وسلم سَوْدَاءَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضَ

Ibn ‘Abbas berkata, “Rayah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. itu berwarna hitam & Liwa’-nya berwarna putih.” HR at-Tirmidizi.

Dalam hadits lain dinyatakan:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ مَكَّةَ وَلِوَاؤُهُ أَبْيَضُ

Jabir Radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. sudah memasuki Kota Makkah, sedangkan Liwa’ [bendera]-nya berwarna putih (HR an-Nasa’i).

hadits di atas, selain diriwayatkan oleh at-Tirmidzi & an-Nasa’i, juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, al-Baihaqi, at-Thabarani, Ibnu Abi Syibah & Abu Ya’la. hadits-hadits ini statusnya sahih. Dengan jelas, dinyatakan bahwa warna Ar-Rayah ialah hitam & Al-Liwa’ ialah putih. At-Tirmidzi memberikan catatan untuk hadits yang dia riwayatkan, “Ini ialah hadits hasan gharîb dari arah ini, dari hadits Ibn ‘Abbas.”

hadits-hadits tersebut diriwayatkan oleh banyak kitab hadits. Semuanya berujung pada jalur sahabat Jabir & Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu

Karena itu mengatakan bahwa panji & bendera Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. yang dikampanyekan oleh HTI ialah rekaan semata justru merupakan dakwaan bodoh. Bisa karena bodoh tentang hadits-hadits tersebut atau bodoh tentang ilmu hadits. Jika orang tersebut paham hadits & ilmu hadits, maka dakwaan seperti itu justru menunjukkan pengingkaran orang itu terhadap hadits-hadits tersebut, atau dakwaan palsu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ini tentu lebih parah lagi.

Para ulama pun sudah membahas hal ini ketika menjelaskan hadits-hadits di atas dalam kitab syarah & takhrij-nya. Sebut saja, seperti ‘Ala’uddin al-Hindi dalam Kanz al-‘Ummâl, al-Haitsami dalam Majma’ az-Zawa’id, Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, al-Abadi dalam Tuhfah al-Ahwadzi, & lain-lain.
Selain itu banyak hadits sahih lain yang berbicara terkait dengan Ar-Rayah & Ar-Liwa, antara lain:

قَالَ النَّبي صلى الله عليه وسلم يَوْمَ خَيْبَرَ (لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَة غَدًا رَجُلاً يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُوْلُهُ)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. bersabda saat Perang Khaibar, “Sungguh besok aku akan memberikan Rayah [panji] ini kepada seorang kesatria yang melalui kedua tangannya, akan diberi kemenangan. Dia mencintai Allah & Rasul-Nya, juga dicintai oleh Allah & Rasul-Nya.” (HR al-Bukhari & Muslim).
hadits ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hiban, al-Baihaqi, Abu Dawud Thayalisi, Abu Ya’la, an-Nasa’i, at-Thabarani, & lain-lain.

Kedua: Memang ada beberapa hadits tentang Ar-Rayah & Al-Liwa’ dengan status hadits yang dipersoalkan oleh para ulama, seperti hadits dari Harits bin Hassan al-Bakri yang berkata, “Kami sudah tiba di Madinah. Ketika itu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. sedang berada di atas mimbar, sementara Bilal berdiri di depan beliau bersandar pada pedang di depan beliau. disana ternyata ada beberapa Rayah [panji] yang berwarna hitam. Aku bertanya, ‘Ini panji-panji apa?’ Mereka menjawab, ‘Panji ‘Amru bin al-‘Ash. Dia baru tiba dari peperangan.’” (HR Ahmad).

Mengomentari hadits ini, Syaikh Syu’aib al-Arnauth memberikan catatan, “Isnad-nya lemah, karena ‘Ashim bin Abi Nujud tidak pernah bertemu dengan Harits bin Hassan.”

Demikian juga dengan hadits dari Ibn ‘Abbas yang berkata, “Rayah [panji] Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. berwarna hitam & Liwa’-nya berwarna putih. Di atasnya tertulis Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasulûlLâh.”
Di sana ada rawi bernama Ahmad bin Muhammad bin al-Hajjaj bin Risydin bin Sa’ad bin Muflih bin Hilal. Dialah yang disebut sebagai tertuduh melakukan pemalsuan.

Ketiga: Terkait hadits-hadits yang di dalamnya ada lafal berikut:

مَكْتُوْبٌ عَلَيْهِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللَّهِ

“Di atasnya tertulis Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasulûlLâh.”

Apakah semuanya berstatus lemah? Nanti dulu. Jika hanya satu hadits & satu jalur seperti itu kemudian divonis lemah, maka vonis seperti hanya lahir dari orang yang bodoh tentang hadits, atau ilmu hadits. Pasalnya, hadits-hadits seperti ini banyak, tidak hanya satu. Jika ada satu yang lemah, tidak serta-merta semuanya. Ini karena dalam ilmu hadits dikenal syawâhid, yang bisa menguatkan status hadits lain.

Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Abu Syaikh al-Ashbahani dalam kitab Akhlâq an-Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. dari Ibnu ‘Abbas statusnya jelas sahih. Adapun jalur lain dari Abu Hurairah memang lemah karena ada rawi bernama Muhammad bin Abi Humaid yang dinyatakan munkar oleh al-Bukhari, dinyatakan tidak tsiqah oleh an-Nasa’i, & tidak ditulis haditsnya oleh Ibnu Ma’in. Namun, hadits dari jalur Ibnu ‘Abbas, semua rawinya dapat diterima.

Dari semua rawi tersebut yang diperdebatkan ialah Hayyan bin Ubaidillah. Sebagian mengatakan dha’îf karena tafarrud (seperti pendapat Ibnu Ady). Namun, Ibnu Hibban menempatkannya dalam kitabnya, Ats-Tsiqqât; Abu Hatim mengatakan Shadûq; Abu Bakar al-Bazzar mengatakan Masyhur “Laysa bihi Ba’sa”. Karena itu, status Tafarrud-nya Hayyan bin Ubaidillah tidak memadaratkan hadits karena keadaannya tsiqah atau shadâq (lihat: Muqaddimah Ibn Shalah).

Demikian juga ikhtilâth antara nama Hayyan bin Ubaidillah & Haban bin Yassar sudah dijelaskan oleh para ulama, seperti dalam Târîkh al-Kabîr, Tahdzîb al-Kamal, Al-Kâmil fî adz-Dhu’afâ’, Mîzan al-I’tidâl, & lain-lain. Penjelasan terkait dengan tafarrud & ikhtilâth Hayyan bin Ubaidillah bisa dijelaskan dalam tulisan khusus. Jadi, kesimpulannya, hadits dari Abu Syaikh dari jalur Ibnu Abbas jelas selamat.

Apalagi kalimat Lâ ilâha illalLâh Muhammad RasulûlLâh merupakan ‘alamah (identitas) utama dalam Islam. Kalimat tersebut merupakan kalimat tauhid, yang dinyatakan dalam kesaksian seseorang ketika menjadi Muslim, & dinyatakan setiap kali shalat.

Jadi, jika ada yang mengatakan, “Secara umum hadits-hadits yang menjelaskan warna bendera Rasul & isi tulisannya itu tidak berkualitas sahih” ialah dakwaan orang yang tidak paham hadits; tidak paham ilmu hadits. Kalaupun paham keduanya, dakwaan itu justru menunjukkan pengingkarannya terhadap hadits, bahkan dakwaan bohong kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Keempat: Soal warna, hadits-hadits sahih menyebutkan bahwa warna Ar-Rayah ialah hitam & Al-Liwa’ ialah putih sudah jelas. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan warna lain seperti kuning & merah, memang ada, tapi kualitasnya dha’îf, & penggunaannya bersifat temporer, tidak terus-menerus.

hadits riwayat Imam Abu Dawud, yang juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqi & Ibnu Adi, menyebutkan bahwa rayah Nabi ialah kuning. Menurut penulis kitab Al-Badr al-Munîr, isnad-nya majhûl (tidak jelas).

Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh ath-Thabarani & Abu Nu’aim al-Ashbahani. hadits ini lemah karena ada rawi bernama Hudu bin Abdullah bin Saad yang dinyatakan tidak tsiqah oleh Ibnu Hibban & nyaris tidak dikenal menurut adz-Dzahabi.

Demikian juga hadits dalam riwayat ath-Thabarani menyebutkan bahwa warna Rayah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. ialah merah. hadits ini pun lemah karena ada rawi yang tidak dikenal menurut al-Haitsami & Ibnu Hajar.

Terakhir, hadits riwayat Ibnu Hibban, Ahmad & Abu Ya’la yang juga menyebutkan Ar-Rayah berwarna merah & statusnya sahih, kejadiannya bersifat temporer, dan itu pada awal-awal urusan ini ketika pada masa Jahiliah, juga awalnya menggunakan Ar-Rayah warna hitam.
Poin-poin di atas semuanya terkait dengan hadits & ilmu hadits. Selain itu, menentukan status bendera tersebut ada atau tidak, wajib atau tidak, ini merupakan masalah yang terkait dengan disiplin ilmu lain, yaitu Ushul Fiqih.

Kelima: Dalam kajian Ushul Fiqih, dikenal adanya qarînah, antara lain, bisa disebut qarînah mudâwamah [indikasi penggunaan atau dilakukan terus-menerus]. Sebagai contoh, tartib (urut-urutan) dalam rukun wudhu, shalat, haji & umrah, misalnya, oleh mazhab Syafii dimasukkan sebagai perkara yang wajib, & tidak boleh ditinggalkan. Pertanyaannya, dari mana Imam Syafii menetapkan semuanya itu sebagai rukun yang wajib dikerjakan? Jawabannya: dari qarînah mudâwamah. Pasalnya, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. tidak pernah berwudhu, shalat, haji & umrah, kecuali dengan urut-urutan seperti itu. Hal itu dilakukan terus-menerus, tidak pernah diselisihi. Alhasil, tindakan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. yang terus-menerus & tidak pernah menyelisihi itu sudah cukup menjadi qarînah, bahwa status perkara ini wajib.

Jika logika yang sama digunakan dalam kasus Ar-Rayah & Al-Liwa’ tersebut, maka penggunaan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. atas keduanya secara terus-menerus menunjukkan bahwa hukum menggunakan keduanya juga wajib. Kesimpulan ini ditarik dengan menggunakan logika & kaidah Ushul Fiqih Imam Syafii. Jadi, aneh, kalau ada yang mengklaim sebagai pengikut mazhab Syafii, tapi menolak hukum Ar-Rayah & Al-Liwa’ ini.

WalLâhu a’lam. [KH. Hafidz Abdurrahman]

Terima Kasih Sudah mengunjungi Blog Vian Kamaruddin Website. Terus Dukung Blog Vian Kamaruddin Website Dengan Cara Donasi Paypal Disini. Dan Jangan lupa Berkunjung Ke Blog Viankamaruddin.Com untuk melihat Artikel lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here