5 tingkatan ukhuwah islamiyah

5 Tingkatan Agar Bisa Terbentuknya Ukhuwah Islamiyah

Diposting pada

5 Tingkatan Agar Bisa Terbentuknya Ukhuwah IslamiyahUkhuwah Islamiyah adalah bukti dari kokohnya keimanan seseorang. Sebab iman menuntut agar seorang muslim yang mukmin mencintai dan berbagi dengan saudara muslim mukmin lainnya.

Perjuangan Islam tidak akan berdiri tanpa adanya ukhuwah islamiyah. Islam menjadikan persaudaraan islam dan iman sebagai dasar bagi aktifitas perjuangan untuk menegakkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala di bumi ini.

5 Tingkatan Agar Bisa Terbentuknya Ukhuwah Islamiyah

Ukhuwah islamiyah akan melahirkan rasa persatuan dan menenangkan hati manusia. Banyak persaudaraan lain yang bukan karena islam dan persaudaraan itu tidak akan kuat dan kekal. Persaudaraan Islam yang dijalin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan ikatan terkuat yang tidak ada tandingannya.

Baca Juga : Wanita Rajin Ibadah, tetapi ia termasuk penduduk neraka?

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang ukhuwah islamiyah, terdapat dalam surah Ali Imran ayat ke 103:

“Dan berpegang teguhlah kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah saat itu kalian saling bermusuhan maka disatukan antara hati kalian maka jadilah dengan Nikmat Allah saling bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”. 
(QS. 3 : 103)

Ayat diatas menggambarkan orang-orang yang bertemu dalam tali (agama) Allah dan menjadikannya sebagai manhaj, perjanjian dan agamanya, merupakan pertemuan yang bukan sekedar pertemuan untuk mencapai keuntungan yang nisbi atau mencapai tujuan tentunya, namun pertemuan yang berdasarkan pada ukhuwah islamiyah.

Baca Juga : Mari Kita Mengenal Manhaj Salaf

Persaudaraan yang terjaga dengan tali Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan kenikmatan yang diberikan Allah Azza wa Jalla atas jama’ah muslimah, yaitu nikmat yang diberikan bagi mereka yang dicintai dan dikehendaki Allah Azza wa Jalla dari hamba-hamba-Nya. Hal ini mengingatkan kepada kita akan nikmat yang begitu besar, dan mengingatkan bagaimana kita sebelumnya dalam keadaan jahiliyah saling bermusuh-musuhan.

Berikut 5 Tingkatan Terbentuknya Ukhuwah Islamiyah

Pertama – Saling Mengenal (At Ta’aruf)

Saling mengenal adalah tahapan atau pondasi pertama terbentuknya ukhuwah islamiyah. Adanya interaksi dapat lebih mengenal karakter individu. Perkenalan pertama tentunya kepada penampilan fisik (Jasadiyyan), seperti tubuh, wajah, gaya pakaian, gaya bicara, tingkah laku, pekerjaan, pendidikan, dsb. Selanjutnya interaksi berlanjut ke pengenalan pemikiran(Fikriyyan).

Hal ini dilakukan dengan dialog, pandangan terhadap suatu masalah, kecenderungan berpikir, tokoh idola yang dikagumi atau diikuti, dan lain-lain. Dan pengenalan terakhir adalah mengenal kejiwaan (Nafsiyyan) yang ditekankan kepada upaya memahami kejiwaan, karakter, emosi, dan tingkah laku.

Seperti kita mengenal seseorang pertama kalinya dengan mengucapkan salam “Assalamu’alaikum”, tidak cukup itu saja, kita juga bertanya siapa namanya, rumahnya dimana, kerjanya apa, dan seterusnya saling berinteraksi.

Kedua – Saling Memahami (At Tafahum)

Proses ini berjalan secara otomatis. Seperti bagaimana kita memahami kekurangan dan kelebihan saudara kita. Sehingga kita bisa mengerti apa yang di sukai dan tidak di sukai saudara Muslim kita, menempatkan posisi seperti apa bila kita bersamanya dan sebagainya.

Sebagaimana kita sudah mengenal saudara muslim kita, saat kita hendak shalat berjamaah, kita ingatkan saudara muslim kita untuk meluruskan shaf. Berbeda jika sebelumnya tidak mengenal dan tidak saling memahami, salah satunya mengingatkan untuk meluruskan shaf, karena tidak saling mengenal yang satunya dalam hati berkata “siapa lagi ini, suka mengatur, terserah saya lah”. Nah inilah pentingnya kalau kita mengenal dan saling memahami.

Ketiga – Saling Menolong (At Ta’awun)

Terlahir dari proses tafahum diatas. Ta’awun dapat dilakukan dengan hati (saling mendo’akan), pemikiran (berdiskusi dan saling menasehati), dan amal ( saling Bantu membantu). Saling membantu dalan kebaikan adalah kebahagiaan tersendiri. Karena manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dan butuh bantuan org lain.

Contohnya jika kita hendak ingin meminjamkan motor kepada saudara muslim kita, jika kita tidak saling mengenal, tidak saling memahami, maka kita juga tidak akan muncul rasa saling menolong. Tentunya kita akan berfikir “emang siapa ya dia, aman tidak ya, jangan-jangan setelah dipinjamkan, motor saya tidak kembali” fikiran seperti ini yang membuat kita ragu untuk menolong.

Keempat – Saling Menanggung (At Takaful)

Pondasi keempat ini hampir sama dengan pondasi nomor 3 yaitu At Ta’awun atau saling menolong. Rasa sedih dan senang diselesaikan bersama-sama. Ketika ada saudara yang mempunyai masalah, maka kita ikut menanggung dan menyelesaikan masalahnya tersebut. Contoh mudah nya, ketika teman kita belum mampu membayar SPP bulan ini, maka kita menanggung biaya nya tersebut. Dsb. Pondasi keempat ini hampir sama dengan pondasi nomor 3 yaitu At Ta’awun atau saling menolong.

Contohnya ada saudara muslim yang tidak sanggup membayar SPP anaknya, kita ikut bantu untuk menanggungnya. Ada saudara muslim kita yang berjalan kaki sendiri dari rumah ke masjid padahal jauh, kita temani. Entah mau berboncengan atau jika teman kita tidak mau, kita temani sama-sama jalan kaki, dan sebagainya.

Kelima – Mendahulukan Orang Lain daripada Diri Sendiri (Al Itsar)

Tahapan atau pondasi Al Itsar adalah tingkatan tertinggi dalam ukhuwah islamiyah. Pondasi ini termasuk tingkatan iman nya para sahabat. Banyak hadits yang menunjukkan al itsar ini.

Contohnya saat ketika dalam suatu perang, salah seorang sahabat sangat kehausan. Kebetulan ia hanya mempunyai 1 kali jatah air untuk minum. Saat akan meminum nya, terdengar rintihan sahabat lain yang kehausan. Maka air tersebut ia berikan kepada sahabat yg kehausan itu.

Saat mau meminumnya terdengar sahabat yang lain lagi juga merintih kehausan. Kemudian ia berikan air tersebut kepada sahabat itu. Begitu seterusnya sampai air tersebut kembali kepada si pemilik air pertama tadi. Akhirnya semua syahid.

Baca Juga : Peristiwa Setelah Perang Nuklir

Kesimpulan

Dalam hadits shahih, “Tidak beriman seseorang diantaramu hingga kamu mencintainya seperti kamu mencintai dirimu sendiri” (HR. Bukhari-Muslim).

Betapa indahnya ukhuwah islamiyah yang diajarkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Bila umat islam melakukannya, tentunya terasa lebih manis rasa iman di hati dan terasa indah hidup dalam kebersamaan. Mari kita mulai dari diri kita, keluarga, masyarakat dekat untuk menjalin ukhuwah islamiyah ini. Wallahu a’lam bisshawab.

Gambar Gravatar
Seorang Guru, Desainer Grafis, dan Pemilik Home Industry Digital Printing di Solo. Berusaha memberikan informasi yang berbobot, menarik dan bermanfaat bagi anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *